nih lanjutan dari blog yang pertama karyakaryafebby.blogspot.com ...
selamat membaca
BAB II
VALENTiNe’S
DAY
2
bulan sudah aku sekolah di SMA KARTAJAYA. Aku sudah menemukan sahabat sejatiku
disekolah ini yaitu Betti Salsabila. Dia sangat teristimewa bagiku. Dia bukan
hanya baik, tapi juga inspirator bagiku. Hari ini adalah hari valentine, semua
orang berbagi kasih sayang pada orang yang ia cintai. Aku masih termenung
sendirian di bawah pohon, yang menjadi markas aku dan betti disaat suka maupun
duka. Betti belum juga datang. Untuk mengisi waktu luang, aku mengambil
handphone untuk bermain games menghilangkan suntukku sendirian.
Saat
aku sedang asyik memainkan games handphone, tiba-tiba betti berteriak
“kerinn” teriaknya yang membuat aku
terhenti bermain games
Betti
mendekat padaku dan mengambil sesuatu didalam tasnya, “ini waktu yang tepat
untuk kamu mulai mendekatinya” ujarnya menyodorkan sebuah coklat berbentuk love
yang telah dibungkus pita bewarna pink dan telah digantungi kartu nama.
Aku mengambil coklat itu dan memperhatikan
coklat yang tidak pernah kulihat sebelumnya “ini coklat apaan? Tidak pernah
kulihat sebelumnya?” tanyaku mengedarkan pandanganku pada coklat itu
“sudah,
itu jangan diurusin. Kasih aja sama dia” seloroh betti tersenyum padaku
Aku
tersenyum padanya “do’akan ya” pintaku bahagia pada betti. Betti hanya
mengangguk senyum
Kami
berderap pergi untuk menuju kelas Kevin. Setelah tiba didepan kelas kevin, kami
terkejut, memang benar-benar situasi yang beruntung. Kelas Kevin kosong, tidak
ada orang didalamnya. Ternyata, semua orang berkumpul dilapangan. Kami saja
yang tidak mengikuti perintah. Betti menyemangatiku “cepat, taruh dimejanya” tunjuk
betti kearah meja kevin
Aku
dengan segera masuk kekelasnya dan menaruh coklat diatas meja Kevin. Sebelum
menaruhnya, aku berdo’a “ya allah, moga Kevin menerima coklat ini dan
memakannya. Amin” bathinku
“kerin,
cepetan” ujar betti yang mendengar suara gemuruh anak-anak bubar dari lapangan
Aku
dan betti langsung berlari cepat meninggalkan kelas dan menuju markas “huh,
untung saja kita cepat”
◊◊◊◊
Bel
tanda istirahat berbunyi, aku dan betti berencana makan dikantin. Tetapi,
ketika kami melewati taman, Kami melihat Kevin termenung sendirian tanpa
berkedip. Dia seperti sedang sedih. Tiba-tiba betti langsung menyenggolku
“rin, ayo deketin dia” godanya
“kesempatan bagus loh” bisiknya menaikkan alis matanya
Aku
tertawa kecil dan mengacungkan jempol pada betti “oke”. Saat aku melangkah maju
untuk mendekatinya, tiba-tiba seorang cewek berambut pirang duduk disebelahnya,
aku mengenal anak itu. Namanya salsa, dia cewek tercantik disekolah kami. Dia
juga teman sekelas kevin
Aku
terhenti sejenak dan memperhatikan gerak gerik mereka. Aku terlonjak saat salsa
memberinya sebuah coklat yang sama persis denganku, bungkusnya sama, hanya saja
kartu namanya berubah menjadi bewarna biru yang semulanya bewarna pink. Aku
melihat kevin sangat menerimanya dan wajahnya berubah cerah. Yang membuatku
kaget, tiba-tiba Kevin langsung merobek bungkus itu dan memakan coklat itu
dengan sangat lahap
“itu
seperti coklatku” bathinku yang masih menatap mereka. Kevin seperti kegirangan
sekali mendapat coklat itu, kesedihannya berlalu begitu saja. Yang membuatku
lebih terlonjak. Salsa menoleh kearahku kemudian tersenyum sempit padaku.
Senyumnya seperti memenangkan sebuah permainan untuk mendapatkan perhatian
Kevin.
Aku
melangkah mundur secara perlahan, kemudian berbalik arah dan berlari sekencang
mungkin. Ntah apa yang membuatku untuk berlari, mungkin aku cemburu dengan
kedekatan mereka dan mungkin juga aku kesel sama salsa karena telah mengambil
coklatku. Sayup-sayup terdengar olehku suara betti memanggil namaku dan mencoba
mengejarku. Aku tidak mempedulikannya. Tak lama aku berlari, aku akhirnya
menyerah. Aku berhenti disebuah ruangan yang bertuliskan ‘laboratorium IPA”.
Ruangan yang jauh dari keramaian dan juga sunyi.
Aku
duduk tersandar di dinding, dan tak kusangka air mataku keluar perlahan. Suara
sepatu berdentum terdengar olehku. Dan suara sepatu itu berhenti pas
disampingku. Aku mengira itu pasti betti. Aku langsung merangkulnya dan
menangis sekuat-kuatnya dibahu betti
Ketika
aku merasa cukup untuk menangis, aku mencoba membuka mataku dan menjauh dari
bahu betti, aku terlonjak. Ternyata dia bukan betti, melainkan tommy. Kawan
sekelasku yang meraih juara satu setiap pengambilan rapor. Sifatnya juga sama
seperti Kevin. Tetapi tommy lebih tertutup, karena itu dia tidak dikerumunin
cewek. Kawan sekelasku juga banyak menyukainya. Satu lagi kenapa dia tidak
dikerumunin cewek, karena dia tidak pernah muncul. Saat keluar main, dia selalu
pergi ke labor IPA untuk melakukan sesuatu berbau pengamatan. Dia jarang ke
kantin.
“eh
maaf tom, aku pikir betti” ujarku malu karena telah membasahi bahunya dengan
air mataku
“gak apa-apa kok” ujarnya “ ngapain
kamu menangis disini?” tanyanya bingung
Aku
mencari-cari alasan menjawab pertanyaan tommy. Mana mungkin aku menjawab aku
menangis karena cowok. Bisa-bisa dia mencemoohku
“kerin”
teriak betti yang terengah-engah mengejarku. Betti mendekatiku dan melirik
sebentar ke tommy “eh tommy, ngapain kamu disini?” tanya betti malu malu
Aku
melihat betti seperti salah tingkah dengan keberadaan tommy, aku tertawa kecil
melihat betti seperti itu dan aku sudah menebak kenapa betti seperti itu
“kerin
belum jawab pertanyaanku. Kenapa dia menangis disini?” tanya tommy
Betti
langsung menggenggam tanganku “rin, aku minta maaf ya. Tadi aku gak sengaja
bilang ke kamu kayak gituan” seloroh betti yang membuatku bingung
Aku
menatap betti bingung, tiba-tiba betti mengedipkan matanya padaku. Aku baru
mengetahuinya “iya bet, gak apa-apa kok. Udah aku maafin”
Betti
menarik tanganku untuk pergi dan kamipun berderap pergi meninggalkan tommy.
Tommy hanya kebingungan melihat kami dan dia kembali keruangan laboratorium.
◊◊◊◊
“gimana?
bagus gak aktingnya?” tanya betti tersenyum
“bagus banget” ujarku tersenyum-senyum
melihat betti kemudian kembali murung “oh iya, aku telah menebaknya” lirihku pelan
“kamu kenapa rin? tadi kok ninggalin
aku. Terus, tebak apaan yang kamu bilang?” tanya betti bingung, karena dia
tidak peka dengan kejadian di taman tadi
“ah, sudah lupakan” kejutku merubah
suasana “sekarang yang penting aku memiliki satu rahasia” sombongku
“apa rin? kasih tau dong?” Tanya betti
kepo.
Aku diam sejenak menatap betti. Betti
kebingungan melihatku. “kamu menyukai tommy kan?” selorohku
Betti
langsung salah tingkah dan menatapku sangsi, kemudian tersenyum malu. Aku
langsung berbisik padanya “aku akan bilang pada tommy” candaku lalu berlari.
Betti
mengejarku “kerin, jangan” teriaknya yang disangkanya itu beneran
Aku
berbalik dan mengejeknya. Kami terus berkejaran. Tiba-tiba “bush”, aku tejatuh
dan betti berhasil menangkapku. Tetapi betti hanya berdiam terpaku disampingku,
dia tidak membantuku berdiri. Padahal, aku sedang mengaduh kesakitan
“bet,
tolongin aku berdiri dong” betti tidak menjawab omonganku
Tiba-tiba seseorang yang menyodorkan tangannya
padaku “ayo berdiri” ucapnya membuatku melihat anak itu dari bawah keatas. Aku
terkejut saat aku menatap keatas, dia Kevin.
Aku
memegang tangannya untuk membuatku berdiri, ntah kenapa jantungku berdegup
kencang, sampai-sampai aku membisu tidak menjawab ajakannya. Kakiku terasa
sakit sekali. Aku terkejut saat dia merangkulku dan memapahku untuk ke UKS
Aku
senang bercampur sebel, pertama aku senang karena Kevin telah merangkulku dan
yang kedua aku sebel karena anak-anak pada melihatku sinis dan ada ada juga
yang berbisik “pake pellet kali anak itu” bisik salah satu dari mereka ke
temannya. Huh, pingin ku lem mulut anak itu, bisa-bisanya dia bilang aku kayak
gitu
◊◊◊◊
“makasih vin, udah bantu ke UKS”
ujarku menundukkan kepala. Aku gak sanggup menatap matanya
“ya, gak apa-apa kok” balasnya
tersenyum lebar “aku pergi dulu ya” lanjutnya melambaikan tangan pada kami
Aku menatapnya sampai tubuhnya
menghilang, kemudian aku berjingkrak girang dan betti pun begitu “cie cie ada
yang lagi berbunga nih” godanya
Aku tidak menjawab pertanyaan betti.
Aku masih tersenyum-senyum menatap awan yang sepertinya sedang mengikutiku
selalu. Dan awan itu juga kelihatan sedang berbunga-bunga. Lihat saja bentuk
awan, pasti hampir seperti bunga
“saraf kali tu anak, senyum senyum
sendiri” ujar seseorang yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan temannya yang
sedari tadi melihatku geli
Lamunanku hilang seketika, semuanya
bubar. Aku menatap sengit pada anak itu. tetapi dia malah ketakutakan sambil
berlari “dia ngamuk dia ngamuk”
Aku terlonjak bingung, mataku melebar
“oi, ngamuk?” gumamku kecil ternyata dapat didengar oleh betti. Betti selalu
saja mendengar gumamku, yang padahal volumenya sangat kecil.
“kamu tu dari tadi senyum senyum
sendiri” lanjut betti menyamakan langkahnya sejajar denganku “dari tadi ku
panggil gak denger denger” tambahnya sengit sambil menggulung rambutnya yang
padahal sudah dijalin
“bet” aku menahan langkah betti
sejenak “ini valentine yang paling mengesankan” bisikku kecil, takut anak lain
mendengarnya dan menjadi gosip disekolah
Betti tersenyum terkesima melihatku
“selamt ya rin” ujarnya memelukku. Seketika itu, dia berhenti memelukku dan
menaruh kedua tangannya dibahuku “oh ya, ngapain tadi kamu nangis?” lanjut
betti yang merubah suasana bahagia menjadi kelam.
Aku tertunduk lesu, “ntahlah bet,
sepertinya aku cemburu dengan salsa. Karena mereka selalu mesra jika telah bertemu”
Betti menaikkan bahuku “ganbatte, gak
ada perjuangan yang sia-sia” ujarnya menyemangatiku
Seketika itu aku merubah raut wajahku
dan tersenyum lebar “ganbatte” ujarku mengulangi perkataanya
◊◊◊◊
syukron udah mau baca..
tunggu bab selanjutnya ya ??
@febbyalp :D
tunggu bab selanjutnya ya ??