Sabtu, 05 Oktober 2013

catatan febby alianti putri 2

nih lanjutan dari blog yang pertama karyakaryafebby.blogspot.com ...
selamat membaca 

 

BAB II

 

VALENTiNe’S DAY

2 bulan sudah aku sekolah di SMA KARTAJAYA. Aku sudah menemukan sahabat sejatiku disekolah ini yaitu Betti Salsabila. Dia sangat teristimewa bagiku. Dia bukan hanya baik, tapi juga inspirator bagiku. Hari ini adalah hari valentine, semua orang berbagi kasih sayang pada orang yang ia cintai. Aku masih termenung sendirian di bawah pohon, yang menjadi markas aku dan betti disaat suka maupun duka. Betti belum juga datang. Untuk mengisi waktu luang, aku mengambil handphone untuk bermain games menghilangkan suntukku sendirian.
Saat aku sedang asyik memainkan games handphone, tiba-tiba betti berteriak
          “kerinn” teriaknya yang membuat aku terhenti bermain games
Betti mendekat padaku dan mengambil sesuatu didalam tasnya, “ini waktu yang tepat untuk kamu mulai mendekatinya” ujarnya menyodorkan sebuah coklat berbentuk love yang telah dibungkus pita bewarna pink dan telah digantungi kartu nama.
          Aku mengambil coklat itu dan memperhatikan coklat yang tidak pernah kulihat sebelumnya “ini coklat apaan? Tidak pernah kulihat sebelumnya?” tanyaku mengedarkan pandanganku pada coklat itu
“sudah, itu jangan diurusin. Kasih aja sama dia” seloroh betti tersenyum padaku
Aku tersenyum padanya “do’akan ya” pintaku bahagia pada betti. Betti hanya mengangguk senyum
Kami berderap pergi untuk menuju kelas Kevin. Setelah tiba didepan kelas kevin, kami terkejut, memang benar-benar situasi yang beruntung. Kelas Kevin kosong, tidak ada orang didalamnya. Ternyata, semua orang berkumpul dilapangan. Kami saja yang tidak mengikuti perintah. Betti menyemangatiku “cepat, taruh dimejanya” tunjuk betti kearah meja kevin
Aku dengan segera masuk kekelasnya dan menaruh coklat diatas meja Kevin. Sebelum menaruhnya, aku berdo’a “ya allah, moga Kevin menerima coklat ini dan memakannya. Amin” bathinku
“kerin, cepetan” ujar betti yang mendengar suara gemuruh anak-anak bubar dari lapangan
Aku dan betti langsung berlari cepat meninggalkan kelas dan menuju markas “huh, untung saja kita cepat”

◊◊◊◊

Bel tanda istirahat berbunyi, aku dan betti berencana makan dikantin. Tetapi, ketika kami melewati taman, Kami melihat Kevin termenung sendirian tanpa berkedip. Dia seperti sedang sedih. Tiba-tiba betti langsung menyenggolku
          “rin, ayo deketin dia” godanya “kesempatan bagus loh” bisiknya menaikkan alis matanya
Aku tertawa kecil dan mengacungkan jempol pada betti “oke”. Saat aku melangkah maju untuk mendekatinya, tiba-tiba seorang cewek berambut pirang duduk disebelahnya, aku mengenal anak itu. Namanya salsa, dia cewek tercantik disekolah kami. Dia juga teman sekelas kevin
Aku terhenti sejenak dan memperhatikan gerak gerik mereka. Aku terlonjak saat salsa memberinya sebuah coklat yang sama persis denganku, bungkusnya sama, hanya saja kartu namanya berubah menjadi bewarna biru yang semulanya bewarna pink. Aku melihat kevin sangat menerimanya dan wajahnya berubah cerah. Yang membuatku kaget, tiba-tiba Kevin langsung merobek bungkus itu dan memakan coklat itu dengan sangat lahap
“itu seperti coklatku” bathinku yang masih menatap mereka. Kevin seperti kegirangan sekali mendapat coklat itu, kesedihannya berlalu begitu saja. Yang membuatku lebih terlonjak. Salsa menoleh kearahku kemudian tersenyum sempit padaku. Senyumnya seperti memenangkan sebuah permainan untuk mendapatkan perhatian Kevin.
Aku melangkah mundur secara perlahan, kemudian berbalik arah dan berlari sekencang mungkin. Ntah apa yang membuatku untuk berlari, mungkin aku cemburu dengan kedekatan mereka dan mungkin juga aku kesel sama salsa karena telah mengambil coklatku. Sayup-sayup terdengar olehku suara betti memanggil namaku dan mencoba mengejarku. Aku tidak mempedulikannya. Tak lama aku berlari, aku akhirnya menyerah. Aku berhenti disebuah ruangan yang bertuliskan ‘laboratorium IPA”. Ruangan yang jauh dari keramaian dan juga sunyi.
Aku duduk tersandar di dinding, dan tak kusangka air mataku keluar perlahan. Suara sepatu berdentum terdengar olehku. Dan suara sepatu itu berhenti pas disampingku. Aku mengira itu pasti betti. Aku langsung merangkulnya dan menangis sekuat-kuatnya dibahu betti
Ketika aku merasa cukup untuk menangis, aku mencoba membuka mataku dan menjauh dari bahu betti, aku terlonjak. Ternyata dia bukan betti, melainkan tommy. Kawan sekelasku yang meraih juara satu setiap pengambilan rapor. Sifatnya juga sama seperti Kevin. Tetapi tommy lebih tertutup, karena itu dia tidak dikerumunin cewek. Kawan sekelasku juga banyak menyukainya. Satu lagi kenapa dia tidak dikerumunin cewek, karena dia tidak pernah muncul. Saat keluar main, dia selalu pergi ke labor IPA untuk melakukan sesuatu berbau pengamatan. Dia jarang ke kantin.
“eh maaf tom, aku pikir betti” ujarku malu karena telah membasahi bahunya dengan air mataku
          “gak apa-apa kok” ujarnya “ ngapain kamu menangis disini?” tanyanya bingung
Aku mencari-cari alasan menjawab pertanyaan tommy. Mana mungkin aku menjawab aku menangis karena cowok. Bisa-bisa dia mencemoohku
“kerin” teriak betti yang terengah-engah mengejarku. Betti mendekatiku dan melirik sebentar ke tommy “eh tommy, ngapain kamu disini?” tanya betti malu malu
Aku melihat betti seperti salah tingkah dengan keberadaan tommy, aku tertawa kecil melihat betti seperti itu dan aku sudah menebak kenapa betti seperti itu
“kerin belum jawab pertanyaanku. Kenapa dia menangis disini?” tanya tommy
Betti langsung menggenggam tanganku “rin, aku minta maaf ya. Tadi aku gak sengaja bilang ke kamu kayak gituan” seloroh betti yang membuatku bingung
Aku menatap betti bingung, tiba-tiba betti mengedipkan matanya padaku. Aku baru mengetahuinya “iya bet, gak apa-apa kok. Udah aku maafin”
Betti menarik tanganku untuk pergi dan kamipun berderap pergi meninggalkan tommy. Tommy hanya kebingungan melihat kami dan dia kembali keruangan laboratorium.

◊◊◊◊

“gimana? bagus gak aktingnya?” tanya betti tersenyum
          “bagus banget” ujarku tersenyum-senyum melihat betti kemudian kembali murung “oh iya, aku telah menebaknya” lirihku pelan
          “kamu kenapa rin? tadi kok ninggalin aku. Terus, tebak apaan yang kamu bilang?” tanya betti bingung, karena dia tidak peka dengan kejadian di taman tadi
          “ah, sudah lupakan” kejutku merubah suasana “sekarang yang penting aku memiliki satu rahasia” sombongku
          “apa rin? kasih tau dong?” Tanya betti kepo.
          Aku diam sejenak menatap betti. Betti kebingungan melihatku. “kamu menyukai tommy kan?” selorohku
Betti langsung salah tingkah dan menatapku sangsi, kemudian tersenyum malu. Aku langsung berbisik padanya “aku akan bilang pada tommy” candaku lalu berlari.
Betti mengejarku “kerin, jangan” teriaknya yang disangkanya itu beneran
Aku berbalik dan mengejeknya. Kami terus berkejaran. Tiba-tiba “bush”, aku tejatuh dan betti berhasil menangkapku. Tetapi betti hanya berdiam terpaku disampingku, dia tidak membantuku berdiri. Padahal, aku sedang mengaduh kesakitan
“bet, tolongin aku berdiri dong” betti tidak menjawab omonganku
 Tiba-tiba seseorang yang menyodorkan tangannya padaku “ayo berdiri” ucapnya membuatku melihat anak itu dari bawah keatas. Aku terkejut saat aku menatap keatas, dia Kevin.
Aku memegang tangannya untuk membuatku berdiri, ntah kenapa jantungku berdegup kencang, sampai-sampai aku membisu tidak menjawab ajakannya. Kakiku terasa sakit sekali. Aku terkejut saat dia merangkulku dan memapahku untuk ke UKS
Aku senang bercampur sebel, pertama aku senang karena Kevin telah merangkulku dan yang kedua aku sebel karena anak-anak pada melihatku sinis dan ada ada juga yang berbisik “pake pellet kali anak itu” bisik salah satu dari mereka ke temannya. Huh, pingin ku lem mulut anak itu, bisa-bisanya dia bilang aku kayak gitu

◊◊◊◊

          “makasih vin, udah bantu ke UKS” ujarku menundukkan kepala. Aku gak sanggup menatap matanya
          “ya, gak apa-apa kok” balasnya tersenyum lebar “aku pergi dulu ya” lanjutnya melambaikan tangan pada kami
          Aku menatapnya sampai tubuhnya menghilang, kemudian aku berjingkrak girang dan betti pun begitu “cie cie ada yang lagi berbunga nih” godanya
          Aku tidak menjawab pertanyaan betti. Aku masih tersenyum-senyum menatap awan yang sepertinya sedang mengikutiku selalu. Dan awan itu juga kelihatan sedang berbunga-bunga. Lihat saja bentuk awan, pasti hampir seperti bunga
          “saraf kali tu anak, senyum senyum sendiri” ujar seseorang yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan temannya yang sedari tadi melihatku geli
          Lamunanku hilang seketika, semuanya bubar. Aku menatap sengit pada anak itu. tetapi dia malah ketakutakan sambil berlari “dia ngamuk dia ngamuk”
          Aku terlonjak bingung, mataku melebar “oi, ngamuk?” gumamku kecil ternyata dapat didengar oleh betti. Betti selalu saja mendengar gumamku, yang padahal volumenya sangat kecil.
          “kamu tu dari tadi senyum senyum sendiri” lanjut betti menyamakan langkahnya sejajar denganku “dari tadi ku panggil gak denger denger” tambahnya sengit sambil menggulung rambutnya yang padahal sudah dijalin
          “bet” aku menahan langkah betti sejenak “ini valentine yang paling mengesankan” bisikku kecil, takut anak lain mendengarnya dan menjadi gosip disekolah
          Betti tersenyum terkesima melihatku “selamt ya rin” ujarnya memelukku. Seketika itu, dia berhenti memelukku dan menaruh kedua tangannya dibahuku “oh ya, ngapain tadi kamu nangis?” lanjut betti yang merubah suasana bahagia menjadi kelam.
          Aku tertunduk lesu, “ntahlah bet, sepertinya aku cemburu dengan salsa. Karena mereka selalu mesra jika telah bertemu”
          Betti menaikkan bahuku “ganbatte, gak ada perjuangan yang sia-sia” ujarnya menyemangatiku
          Seketika itu aku merubah raut wajahku dan tersenyum lebar “ganbatte” ujarku mengulangi perkataanya
         
◊◊◊◊


syukron udah mau baca..
tunggu bab selanjutnya ya ??


@febbyalp :D